Kisah Detik-detik Mendebarkan dan Mengharukan saat Umar Masuk Islam

silahkanSHARE.com | Kisah Islami | Kisah Umar Masuk Islam | Selama Bulan Suci Ramadhan, kami ingin mengupdate tulisan bertemakan islami. Salah satunya yaitu tentang kisah Inspirasi dari perjalanan hidup sahabat Nabi bernama Umar Bin Khattab.

Namun dalam tulisan ini kami tidak akan menceritakan secara keseluruhanya, namun ingin menuliskan kembali terkait dengan kisah mengharukan Umar Bin Khattab saat masuk Islam.

dari suku Quraisy, golongan bani Adhi yang dikenal sangat pemberani, tinggi, tegas, gagah, kekar, dan tidak gentar kepada siapapun. Tidak berlebihan jika Umar bin Khattab mendapat julukan Singa Padang Pasir.

Sebelum mendapatkan hidayah, Umar termasuk orang yang berdiri di barisan sangat memerangi dan memusuhi Nabi Muhammad S.A.W.

Umar bisa dikatakan sebagai musuh besar Islam. Bahkan saat zaman jahiliyah saat itu, Umar sampai tega membunuh dan mengubur hidup-hidup anak perempuanya.

Hal tersebut hanya karena saat itu anak perempuan dianggap aib bagi orang tua, termasuk umar saat itu, sehingga tega membunuh anak kandungnya sendiri.

Namun, walaupun Umar dulu memusuhi islam, banyak orang terheran-heran, bagaimana mungkin orang sekeras Umar bin Khattab bisa masuk islam?

Kisah Umar masuk islam memang sangat menarik, sekaligus sangat menginspirasi untuk siapapun kita, bahwa sejahat-jahatnya orang, di dalam hatinya pasti ada kebaikan.

Begitu juga yang terjadi saat Umar masuk islam, diluar itu tentunya Hidayah dari Allah S.W.T yang memang memilih Umar untuk masuk islam.

Detik-detik Umar masuk Islam diawali dari peristiwa, dimana saat itu Umar sangat marah dan gusar terkait semakin banyaknya orang yang masuk islam.

Bahkan Umar sampai dibuat heran, para budak-budak yang dalam masa itu adalah dianggap sebagai kelompok yang sangat hina dan rendah, bahkan seolah tak ada nilainya, begitu masuk Islam, budak tersebut menjadi berani kepada para majikanya, bahkan walau sudah disiksa dengan berbagai siksaan mematikan.

Melihat keadaan ini, Umar kemudian mengambil kesimpulan jika semua itu gara-gara ulah Muhammad.

Menurut Umar, gara-gara Muhammad, mereka jadi terpecah, sering berkelahi, bahkan memusuhi sesembahan tuhan mereka saat itu yang dikenal dengan Latta, Usza, dan banyak sesembahan mereka yang lainya.

Akhirnya di puncak kemarahan itulah Umar mengambil pedangnya dan memutuskan untuk langsung menuju Darul Arqam, tempat dimana biasanya Muhammad kumpul dengan para sahabatnya.
Namun di perjalanan, Umar bertemu dengan Nuaim bin Abdillah.

Melihat Umar wajahnya terlihat sangat marah, apalagi Umar membawa pedang, maka Nuaim berfikir jika Umar ini mau bunuh orang.

Nuaim akhirnya bertanya Umar dan terjadilah percakapan diantara Umar dan Nuaim sebagai berikut,

Nuaim: Umar, kamu hendak kemana bawa pedang, dan sepertinya sangat marah?

Umar: "Saya mau membunuh Muhammad!, dia yang menghina tuhan kita, menghina nenek moyang kita, dan memecah belah kita.".

Nuaim: Gak salah Umar?

Umar: Tidak salah lagi!

Nuaim: "Salah Umar! apa kamu tidak malu, kamu akan mencoba membunuh Muhammad, sedangkan adikmu sendiri juga sudah masuk islam?”

Mendengar pernyataan Nuaim ini, Umar tambah marah dan tidak jadi menuju ke tempat Muhammad, Umar bin Khattab langsung menuju rumah adiknya.

Di dalam rumah adiknya, disana berkumpul ada Khabbab bin Art yang sedang mengajarkan al-Quran kepada adik Umar Fatimah dan suaminya.

Begitu Umar ketok pintu dengan suara keras, maka ketiganya panik.

Seketika itu juga, Khabbab yang tau kedatangan Umar dengan suara keras dan marah-marah, dia segera bersembunyi di balik pintu belakang. Sementara Fatimah, segera menutupi lembaran al-Quran.

Sebelum masuk rumah, rupanya Umar telah mendengar bacaan Khabbab, lalu dia bertanya :

Umar: “Suara apakah yang tadi saya dengar dari kalian?”,
Fatimah: “Tidak ada suara apa-apa kecuali obrolan kami berdua saja”
Umar: “Pasti kalian telah murtad”, kata Umar dengan geram
Umar juga bertanya dengan lantang kepada Fatimah, apakah engkau telah masuk islam?
Fatimah menjawab, jika dirinya memang sudah masuk islam.

Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung mengangkat suami Fatimah dan dibanting lalu ditindihnya. Fatimah yang mau menolong suaminya juga ikut dipukul oleh Umar.

Saat kondisi menegangkan tersebut, suara kebenaran nan lantang dari Fatimah terdengar.

“Wahai Umar, Apakah engkau memukul orang yang bersaksi bahwa tidaka da tuhan selain Alloh dan Muhammad Rosululloh?!"

"Apakah engkau menganiaya orang yang terpanggil untuk mengikuti KEBENARAN! Manusia macam apa ini kau Umar!!

Mendengar suara kebenaran yang diucapkan oleh adiknya Fatimah, Umar tiba-tiba seperti terhentak dan kaget dan baru menyadari, betapa dirinya telah tega menganiaya adik kandungnya sendiri yang dengan tegas adiknya katakan jika dirinya hanya mengikuti sebuah KEBENARAN untuk memeluk Islam.

Pada saat bersamaan itu pula, Umar melihat potongan mushaf Al-Qur'an yang disembunyikan adiknya, lalu ingin tahu apa itu dan ingin membacanya.

Namun Fatimah menolaknya seraya mengatakan bahwa Umar najis, dan al-Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci. Fatimah memerintahkan Umar untuk mandi jika ingin menyentuh mushaf tersebut dan Umar pun menurutinya.

Setelah mandi, Umar membaca lembaran tersebut, lalu membaca mushaf Al-Qur'an tersebut.

Kebetulan saja, ayat yang dia baca adalah Surat Toha

طه

Hingga ayat :

إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha : 14)

Usai membaca ayat tersebut, Umar yang hatinya begitu keras, tiba-tiba saja menjadi tersentuh akan ayat suci tersebut. Usai membaca potongan Al-Qur'an tersebut Umar mendapatkan hidyaah dan langsung ingin menemui Muhammad.

Mendengar ucapan tersebut, Khabab bin Art keluar dari balik pintu persembunyianya, seraya berkata: “Bergembiralah wahai Umar, saya berharap bahwa doa Rasulullah SAW pada malam Kamis lalu adalah untukmu, beliau SAW berdoa :

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Rasulullah SAW sekarang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa”.

Umar bergegas menuju rumah tersebut seraya membawa pedangnya. Tiba di sana dia mengetuk pintu. Seseorang yang ber-ada di dalamnya, berupaya mengintipnya lewat celah pintu, dilihatnya Umar bin Khattab datang dengan garang bersama pedangnya. Segera dia beritahu Rasulullah SAW, dan merekapun berkumpul. Hamzah bertanya:

“Ada apa ?”.
“Umar” Jawab mereka.
“Umar ?!, bukakan pintu untuknya, jika dia datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika dia datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”.

Rasulullah SAW memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar. Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata :

“Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunakan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah ?, Ya Allah inilah Umar bin Khattab, Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khattab”.

Maka berkatalah Umar :

“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah .
Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil-Haram.

Masuk Islamnya Umar menimbulkan kegemparan di kalangan orang-orang musyrik, sebaliknya disambut suka cita oleh kaum muslimin.

Sejak Umar masuk Islam, dirinya langsung berbalik, yang tadinya memusuhi Islam, sekarang berbalik melindungi Islam.

Bahkan Umar juga yang mengusulkan supaya Muhammad melakukan dakwah secara terbuka tidak diam-diam lagi, dan Umar siap menjaga Muhammad dengan nyawa sebagai taruhanya.

Wallohu'alam....

Semoga kisah ini memberikan inspirasi dan kebaikan untuk pembaca.

SilahkanSHARE!

No comments