Kisah 4 Orang Kaya yang Tinggalkan Harta Demi Hidup Sederhana

Kisah 4 Orang Kaya yang Tinggalkan Harta Demi Hidup Sederhana.


SilahkanSHARE.com | Umumnya orang bekerja dan membuka sebuah usaha dan mengalami kemajuan yang sangat pesat tentu tak lain karena ingin mendapatkan keuntungan dan kekayaan. Yah secara alamiah setiap manusia jika ditanya ingin hidup kaya, pasti mereka akan menjawab iya.

Hidup kaya dengan bergemilang harta tentu itu yang diharapkan oleh setiap orang. Mereka rela berkorban waktu, bekerja keras dan juga sekolah sampai jenjang yang tertinggi tak lain karena ingin hidup senang di masa depan.

Dan kesenangan itu bisa di dapatkan dengan kekayaan dan harta yang dimiliki. Namun untuk beberapa orang, kekayaan ternyata belum tentu bisa membuat hidup menjadi bahagia. Banyak orang kaya dengan harta yang tak terhingga namun tak pernah bahagia.

Kekayaan yang mereka punya ternyata tidak memberikan apa arti sebuah kebahagian. Malah kebahagian mereka dapatkan ketika semua kekayaan diberikan kepada orang lain.

Berikut dikutip dari anakregular, empat kisah orang kaya di dunia yang tinggalkan harta benda dan semua kekayaannya demi mengejar sebuah kebahagiaan yang hakiki.

#1. Jingchong, Tinggalkan Harta Benda Demi Menjadi Biksu


Pic shows: Liu Jingchong, right. A millionaire who began living in the isolated mountains in north-west China two years ago has fulfilled his dream of becoming a Buddhist monk after giving up all of life’s material pleasures to pursue a lifestyle driven by spiritual enlightenment. Liu Jingchong, a businessman born in China’s southern Guangdong Province, was recently accepted as a monk at Baochan Temple in the county of Hanshan, in east China’s Anhui Province, after spending two years living in isolation. The 39-year-old swapped big city life as well as millions in annual income to live a minimalistic life on Zhongnan Mountain in northwestern Shaanxi Province after an epiphany came to him one day, causing him to realise that people will never stop pursuing bigger houses, better jobs, and more expensive cars if they continue to live in metropolises, failing to focus on their "inner" life. He then dropped everything and left for the mountains in December 2012, where he spent most of his days meditating, reading, and practising calligraphy. Living in a shed made of straw became his norm, and Jingchong soon found new meaning in isolation and silence. Jingchong said of his time in the mountains: "The living conditions were bad. My bed was made of bricks and there was no electricity during the snowy winter." He continued: "But I didn’t feel cold there. Maybe it was because I liked the life there and focused just on what I liked." Jingchong grew his own vegetables in the mountains and only left his hermit lifestyle to buy rice, flour, and oil. He said he spent almost no money during the two years, and also did not need a watch, as he rose with the sun and slept with the moon. After meeting an eminent monk from Baochan Temple, who became his master, Jingchong travelled to Anhui Province to take a tonsure – the shaving of a Buddhist monk’s head – and began living with others like him who prefer a quieter, simpler life. Jingchong has been at the temple for three months now and instead of managing millions networks as a cook in the communal kitchen. (ends)

Jingchong, 39 tahun, lelaki asal China, mengalami titik balik dalam kehidupannya pada 2012 setelah kecelakaan yang menimpanya. Pada saat itu keduanya terpaksa harus menginap di hotel karena mereka belum bisa bepergian jauh akibat luka kecelakaan.

Jingchong kemudian memutuskan dia ingin menjadi biksu dan pindah ke Pegunungan Zhongnan di Provinsi Shaanxi, meninggalkan seluruh hartanya bernilai miliaran, termasuk tujuh mobil, rumah mewah ala istana dan rumah untuk berlibur.

Setelah dua tahun menyepi di gunung, dia akhirnya berhenti berbisnis tekstil dan bergabung ke sebuah kuil di sebelah timur China. Di sana di bekerja di dapur umum.

Dia merasa harta benda duniawi tidak akan pernah bisa membuat manusia merasa puas. Orang akan selalu ingin punya rumah lebih besar, pekerjaan lebih baik, kendaraan mewah dan seterusnya.

Selama dua tahun tinggal di gunung, menyepi menjadi biksu, memang bukan hal mudah bagi Jingchong. Dia hidup dalam kesendirian, bermeditasi, membaca, menulis kaligrafi. Dia menanam sayur-sayuran dan sebulan sekali mengunjungi kota kecil terdekat untuk membeli beras, minyak, dan gandum.

"Kondisi saat itu sulit. Ranjang saya terbuat dari batu bata dan tak ada listrik ketika musim dingin tiba. Tapi saya tidak merasa kedinginan. Mungkin itu karena saya suka tinggal di sana dan fokus menjalani apa yang saya suka."

#2. Yao Nanshan, Tinggalkan Harta Demi Hidup Sederhana Dengan Istri di Desa


Yao Nanshan


Pria kaya bernama Yao Nanshan, 60 tahun, meninggalkan seluruh kekayaan dan gaya hidup orang kota untuk tinggal di desa bersama istri yang menjadi cinta sejatinya.

Dia menikahi Liu Lijuan, wanita yang menolongnya ketika dia tersesat di pegunungan ketika sedang berlibur. Sejak kejadian itu dia terus berhubungan dengan Liu dan akhirnya Desember lalu mereka menikah.

Mengutip dari situs People's Daily Online, surat kabar the Daily Mail melaporkan, Rabu (13/4), Yao memutuskan meninggalkan bisnis restorannya di Sevilla, Spanyol, selama 30 tahun, untuk menjalani hidup sederhana di desa. Demi hidup di desa, Yao meninggalkan tujuh rumah yang dia punya di Kota Qingtian, sebelah tenggara China.

Pada 2002 Yao kehilangan istri pertamanya karena kanker perut. Sejak itu dia merasa tidak punya tujuan hidup meski kaya raya. Dalam perjalanan liburan di gunung pada akhir 2013, Yao dan temannya tersesat dan ketinggalan bus untuk kembali ke Qingtian. Mereka berdua akhirnya harus mengetuk pintu rumah warga desa untuk menumpang menginap. Rumah yang ketuk itu adalah milik Liu.

Yao kemudian mengatakan betapa ramah dan baiknya Liu meski dia hidup dalam kemiskinan di desa. Pasangan yang saling tertarik sejak pertemuan pertama mereka itu akhirnya terus berhubungan meski Yao kembali ke Spanyol untuk menjalankan bisnis restorannya. Yao akhirnya kembali bertemu Liu dan menyatakan cintanya.

Setelah mengumumkan mereka akan menikah, Yao memberikan seluruh harta dan bisnisnya kepada ketiga anaknya dari pernikahan sebelumnya. Menurut laporan Yao telah membeli sebuah pemondokan kecil untuk tinggal bersama istrinya di desa.

#3. Demi Tolong Ratusan Anjing Terlantar, Miliuner Ini Rela Bangkrut


wang yan

Rasa cinta dari seseorang terhadap hewan peliharaan kadang memang dapat memunculkan sebuah tindakan yang sangat luar biasa. Pria di China ini merupakan salah satu orang yang rela mengorbankan segala harta bendanya demi menolong anjing-anjing yang terlantar.

Dilansir dari Shanghaiist, seorang pria di Changchun yang bernama Wang Yan ini rela menjadi bangkrut demi membuat sebuah pusat penyelamatan hewan untuk menjadi rumah yang menyenangkan bagi anjing-anjing terlantar.

Pria berusia 29 tahun yang berasal dari kota Gelong di provinsi Jilin ini sebelumnya memiliki harta yang berlimpah. Tetapi sejak tahun peristiwa kehilangan hewan peliharaannya di tahun 2012 semua mulai berubah.

Yan menceritakan bahwa dia mati-matian mencari anjingnya tetapi tidak kunjung ditemukan. Akhirnya seseorang menyarankannya untuk ke tempat pembantaian hewan di sekitar situ.

Ketika ke tempat itu lah dia mulai sadar bahwa ternyata banyak anjing-anjing yang bernasib malang. Walaupun anjingnya tidak dapat ditemukan tetapi kunjungannya ke tempat pembantaian hewan itu lah yang mengubah pikirannya.

Menggunakan kekayaan yang dimilikinya itulah Wang akhirnya membeli tempat tersebut dan mendirikan tempat perlindungan dan pemeliharaan hewan pada sebuah pabrik baja di sekitar situ. Seiring waktu dia mulai membangun lebih banyak lagi rumah perlindungan dan mengumpulkan anjing-anjing terlantar di rumah tersebut.

Saat ini terdapat sekitar 215 anjing yang ada di tempat tersebut. Yan merawat anjing-anjing tersebut hingga ada orang yang berminat mengadopsi mereka. Walaupun sempat kaya raya tetapi usaha yang dilakukannya ini membuat Yan kini memiliki banyak utang.

Walaupun begitu dia tetap berjuang sepenuh tenaga untuk menolong anjing-anjing tersebut dan menolak sumbangan berupa uang yang diberikan padanya.

#4. Sudah Malas Hidup Kaya, Taipan Muda China Jual Semua Hartanya


Pic shows: Liu Jingchong, right. A millionaire who began living in the isolated mountains in north-west China two years ago has fulfilled his dream of becoming a Buddhist monk after giving up all of life’s material pleasures to pursue a lifestyle driven by spiritual enlightenment. Liu Jingchong, a businessman born in China’s southern Guangdong Province, was recently accepted as a monk at Baochan Temple in the county of Hanshan, in east China’s Anhui Province, after spending two years living in isolation. The 39-year-old swapped big city life as well as millions in annual income to live a minimalistic life on Zhongnan Mountain in northwestern Shaanxi Province after an epiphany came to him one day, causing him to realise that people will never stop pursuing bigger houses, better jobs, and more expensive cars if they continue to live in metropolises, failing to focus on their "inner" life. He then dropped everything and left for the mountains in December 2012, where he spent most of his days meditating, reading, and practising calligraphy. Living in a shed made of straw became his norm, and Jingchong soon found new meaning in isolation and silence. Jingchong said of his time in the mountains: "The living conditions were bad. My bed was made of bricks and there was no electricity during the snowy winter." He continued: "But I didn’t feel cold there. Maybe it was because I liked the life there and focused just on what I liked." Jingchong grew his own vegetables in the mountains and only left his hermit lifestyle to buy rice, flour, and oil. He said he spent almost no money during the two years, and also did not need a watch, as he rose with the sun and slept with the moon. After meeting an eminent monk from Baochan Temple, who became his master, Jingchong travelled to Anhui Province to take a tonsure – the shaving of a Buddhist monk’s head – and began living with others like him who prefer a quieter, simpler life. Jingchong has been at the temple for three months now and instead of managing millions networks as a cook in the communal kitchen. (ends)

Seorang taipan muda China sudah bosan hidup kaya gara-gara kecelakaan. Kini dia membuang semua hartanya dan memilih tinggal di sebuah rumah mungil dekat pegunungan.

Surat kabar South Morning China Post melaporkan, Sabtu (22/11), Liu Jingchong asal Provinsi Guangdong, mantan pengusaha di bidang manufaktur dan tekstil besar ini mengubah gaya hidupnya setelah mobil dikendarainya menabrak pagar pembatas jalan.

Bukan lantaran dia terluka, justru kecelakaan kecil itu tak menggores kulitnya sedikit pun. Peristiwa nahas itu terjadi di tempat jauh dari keramaian di Provinsi Qinghai. Alih-alih beli mobil baru untuk mengganti kendaraan rusak, dia malah berdiam di sebuah hotel dan membaca buku tentang ajaran Buddha.


Dia amat tersentuh dengan kalimat Buddha berbunyi 'Harta hanya membuat menderita'. Akhirnya dia menjual seluruh kekayaannya. "Saya tidak menyepi atau hidup sendiri.

Saya sangat senang jika ada seseorang mau mengunjungi saya dan berbagi pengalaman. Saya mencintai kehidupan saya yang sekarang," ujar Liu. Di rumah mungilnya dia membangun perpustakaan pribadi banyak diisi buku-buku soal ajaran Buddha dan kesederhanaan.

1 comment:

  1. thank nice infonya sangat menarik, silahkan kunjungi balik website kami http://bit.ly/2p9iBfW

    ReplyDelete