Yang Biasa Nawar Barang Jualan Orang Miskin Wajib Baca!

Yang Biasa Nawar Barang Jualan Orang Miskin Wajib Baca!


SilahkanSHARE.com | Ada sebuah tulisan dari seorang motivator bisnis ternama Saptuari yang begitu menyentuh dan "menampar" hati nurani kita. Terlebih khusus untuk siapapun yang terbiasa menawar barang jualan orang miskin di jalanan.

Silahkan disimak dengan hati yang bersih dan hati yang tenang, semoga bisa menjadi renungan untuk kita semua.

Kita hidup di dunia kapitalis, semua hal harus bernilai uang. Ketika kita mengeluarkan uang, kita pun berharap mendapatkan ganti produk terbaik, pelayanan terbaik, hasil terbaik... Jika enggak dapat yang terbaik, maka kita dengan mudahnya kita komplain, mencaci maki penjual, mencela pelayanan, kalo perlu bikin heboh di media sosial..

Kalo kita beli produk di Supermarket besar, maka kita dengan mudahnya setuju dengan harga yang ditawarkan. Gak perlu lah nawar, bikin malu.. Emang kita orang susah!

Pokoknya beli produk ini itu.. Bayarrr!! Gak punya duit cash? Kartu kredit dimainkan! Urusan nyicil belakangan.. Urusan dosa riba au ah gelap gak urusan!

Semua diskonan kita kejar, semua tawaran cicilan kita iyakan, merasa punya uang padahal kartu utangan..

Kita terjerembab dalam jebakan kapitalis, setiap ribuan uang yang dikeluarkan adalah poin-poin yang dikumpulkan yang besok akan kita tuker dengan panci dan termos bonus pembelian..

Kita adalah raja komplain! Sekali kembalian kurang di minimarket 5 ribu saja kita akan langsung memfoto struknya, lalu upload di semua sosial media, tambahi dengan caci maki agar heboh disana-sini, sukur-sukuuur besok dapat kompensasi..
Semua harus kembali dalam hitungan uang.. Sistem Kapitalis yang melenakan dan gak sadar menyempitkan hati kita ketika memandang nilai dan harga..

Cobalah sekarang, lupakan semua transaksi kapitalis yang memuakkan! Transaksi yang harus menguntungkan, mulailah menegakkan kepala, menengok ke kiri dan kanan, melepaskan sejauh mata memandang...

Lihatlah itu,


[caption id="attachment_3374" align="aligncenter" width="703"]Inilah Mbah Atmo: Gambar: facebook Sabptuari Inilah Mbah Atmo: Gambar: facebook Saptuari[/caption]

Mbah Atmo Slamet, usianya sudah 90 tahun masih mengayuh becak tua dengan dagangan sapu ijuk, sapu lidi dan arang. Kulitnya kotor menghitam, bajunya lusuh penuh lipatan.

Tebak berapa harga satu buah sapunya?
15 ribu!!
Salaaah...
20 ribu!!
Salaah...
25 ribu!!
Salaaaaah... aah!

Hei kawan, satu buah sapunya dijual 6.000 saja, dijajakan dengan becak dari wilayah Dlingo yang berjarak 28 kilometer dari pusat kota Jogja. Lihat foto itu, jika semua sapu itu laku, dia akan mendapatkan uang 90.000, dan itu baru harga jual belum dikurang modal. Jika satu sapu dia mendapat untung 1000, maka dia mendapatkan 15.000 sehari, itupun dengan catatan semua sapunya laku hari itu..

Lihatlah sekelilingmu, ada buanyaaaak sekali mbah Atmo Slamet yang menjelma dengan banyak rupa..

Datangi mereka wahai kawanku, tundukkan badanmu, rendahkan hatimu..

Bertransaksilah dengan mereka langsung disaksikan langit..
Lupakan kualitas produk..
Lupakan soal cicilan dan harga promosi..
Lupakan soal layanan purna jual..
Bayarlah cash! Langsung dari dompetmu..
Ambilah satu-dua dagangannya, bayarlah 10-20-30 kali lipat dari harganya..
Rasakan dahsyatnya ketika wajah tua itu memandangmu dengan mulut gemetar, bulir air mata yang tiba-tiba mengembang, lalu doa-doa yang terucap ditumpahkan untuk dirimu..

Jangan salahkan aku, ketika moment itu membuat air matamu ikut mengembang, hatimu tergetar oleh rasa bahagia yang aneh dan belum pernah ada sebelumnya..

Lalu engkau melangkah pergi dengan hati yang puassss tak tertandingi...
Mengalahkan rasa puas usai disapa kasir cantik di supermarket yang baunya wangi..

5 comments:

  1. Terima kasih, semoga bisa jadi inspirasi untuk berhenti menawar barang jualan orang2 miskin..
    Beli produk barang2 orang kaya di Mall aja gak pernah nawar, giliran beli produk org miskin malah nawarnya semurah2nya :-(

    ReplyDelete
  2. Silakan saja kalau ada yg menganggap saya apatis, tetapi mari kita lihat kenyataan. Ketika kita ingin membantu orang susah, sebaiknya jeli & hati2. Saat ini banyak orang2 yg mengesankan dirinya orang susah, pura2 kere.

    Lihat saja penerima BLT saat BBM naik, ada org2 yg ambil BLT dgn perhiasan menor. Ada yg sambil merokok gaya pengganguran protes bahwa BLT Rp. 300 rb tidak cukup dan uang BLT mimpi Rp. 500 rb.

    Ada yang benar2 mengalami susah dan mau usaha untuk hidup tetapi (disayangkan) ada yg memanfaatkan dgn bersandiwara sbg orang susah.

    Untuk itu saya selalu hati2 dan tidak gampang2 membantu orang lain. Harus yakin dulu apakah orang tsb benar2 perlu dibantu.

    ReplyDelete
  3. Iya, memang semuanya itu memerlukan ilmu. Semoga kita termasuk orang2 yg selalu bisa membantu orang yang benar2 tepat membutuhkan.

    ReplyDelete
  4. Tulisannya sangat menyentuh, dan menggambarkan kenyataan yang ada di masyarakat kita saat ini. Dengan membeli jualan orang miskin berarti kita telah ikut menyelamatkan hidup mereka. Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

    ReplyDelete