Kisah Bob Sadino Disangka Tukang Sampah dan Alasan Bob Sadino Selalu Gunakan Celana Pendek

Kontroversi Kisah Bob Sadino Disangka Tukang Sampah dan Alasan Bob Sadino Selalu Gunakan Celana Pendek.


SilahkanSHARE.com | “Saya dituntut memakai celana panjang kalau mau masuk ke gedung rakyat itu. Oke, saya mau bertanya. Lebih baik mana, celana pendek tapi dibeli dengan uang sendiri atau celana panjang tetapi dibayar dengan uang rakyat? Ha-ha-ha,” kata Om Bob.

Banyak orang tentunya sudah pernah mendengar yang namanya pengusaha penuh inspirasi bernama Bob Sadino.

Almarhum Bob Sadino memang dikenal sebagai salah satu sosok yang sederhana. Senang menggunakan celana pendek, menjadi salah satu ciri khas mantan pengusaha nyentrik itu.

Namun belakang, netizen seolah terinpirasi dengan beredarnya kisah Bob Sadino dengan  judul "Jangan Pernah Merendahkan Siapapun" yang menyebar di jejaring sosial dan aplikasi chatting populer.

Dikutip dari tribunnews.com, Tidak sedikit yang mempercayai cerita yang disebut-sebut sebagai kisah nyata itu, tapi juga ada meragukan kebenaran ceritanya.

Sebelum membahas pro dan kontranya, ada baiknya disimak dahulu cerita itu.

Kisahnya:
Suatu pagi, terlihat seorang wanita berpenampilan menarik berusia 40an membawa anaknya memasuki area perkantoran sebuah perusahaan terkenal.

Karena masih sepi, mereka pun duduk di taman samping gedung untuk sarapan sambil menikmati hamparan hijau nan asri. Selesai makan, si wanita membuang sembarangan tisu bekas pakai.

Tidak jauh dari situ, ada seorang kakek tua berpakaian sederhana memegang gunting untuk memotong ranting. Si kakek itu menghampiri dan memungut sampah tisu itu, membuangnya ke tempat sampah.

Beberapa waktu kemudian, kembali wanita itu membuang lagi tanpa rasa sungkan, kakek itu pun dengan sabar memungut dan membuangnya ke tempat sampah.

Sambil menunjuk ke arah sang kakek, si wanita itu lantang berkata ke anaknya,”Nak, kamu lihat kan, jika tidak sekolah dengan benar, nanti masa depan kamu cuma seperti kakek itu, kerjanya mungutin dan buang sampah! Kotor, kasar, dan rendah seperti dia, Jelas, ya?”

Si kakek meletakkan gunting dan menyapa ke wanita itu, “Permisi, ini taman pribadi, bagaimana Anda bisa masuk kesini ?” Wanita itu dengan sombong menjawab, “Aku adalah calon manager yang dipanggil oleh perusahaan ini.”

Di waktu yang bersamaan, seorang pria dengan sangat sopan dan hormat menghampiri sambil berkata, ”Pak Presdir, hanya mau mengingatkan saja, rapat sebentar lagi akan segera dimulai.”

Sang kakek mengangguk, lalu sambil mengarahkan matanya ke wanita itu, dia berkata tegas, “Manager, tolong untuk wanita ini, saya usulkan tidak cocok untuk mengisi posisi apa pun di perusahaan ini.”

Sambil melirik ke arah si wanita, si manager menjawab cepat, “Baik Pak Presdir, kami segera atur sesuai perintah Bapak.”

Setelah itu, sambil berjongkok, sang kakek mengulurkan tangan membelai kepala si anak, “Nak, di dunia ini, yang penting adalah belajar untuk menghormati orang lain, siapa pun dia, entah direktur atau tukang sampah".

Si Wanita tertunduk malu, tanpa berani memandang si kakek. Kakek itu adalah Bob Sadino, yang kedudukannya adalah Presiden Direktur di perusahaan tersebut. 

Setelah membaca kisah tersebut diatas, beberapa akun facebook ikut mengomentari tanda setuju, seperti Mj Esther Odetta yang menulis "saya brhenti jd krywn dan brani buka usaha sndiri jg krn kata2 Bob sadino, setinggi apapun jbtn mu,km ttp krywn(krj ikut org) sekecil apapun gajimu, km adalah bos nya (buka usaha sndiri)"

Namun tidak sedikit pula yang meragukan kisah itu, seperti yang diutarakan oleh Yuli Andria, "ceritanya sech bagus.... walau agak sedikit janggal tp ada satu lagi pesan penting di ceritanya yg perlu di beritahu....... jangan buang sampah sembarangan......"

Begitupun dengan Tay Cia Yunk yang mengatakan, "Gak masuk akal ceritanya masak mau lamar kerja bawa anak"

Hikmah dan Pelajaran penting dari cerita ini


Terlepas dari pro dan kontra itu, satu hal pasti yang bisa diambil pelajaran penting adalah hargailah setiap orang yang anda temui, meski penampilan mereka biasa-biasa saja.

Penampilan seseorang belum tentu, bahkan seringkali tidak menggambarkan kedudukan sosialnya. Jangan pernah menghina orang yang kondisi keuangannya di bawah anda, karena suatu saat orang tersebut bisa saja berada di atas anda.

Setiap orang layak untuk dihargai, terlepas dari kedudukan, suku, agama dan kondisi keuangannya. Semoga artikel ini bisa menginspirasi anda menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Alasan Kenapa Om Bob Sadino Suka Bercelana Pendek


Bob Sadino atau akrab dipanggil Om Bob, kini telah tiada. Pria kelahiran, Kamis, 9 Maret 1939 itu meninggal dunia, Senin, 19 Januari 2015.

Semasa hidupnya, Om Bob adalah seorang pengusaha sukses asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick.

Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat santai dengan mengenakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya sehari-hari. Mengapa bercelana pendek? Om Bob kerap beralasan, “untung masih pakai celana.”

Dalam sebuah kesempatan berbincang dengan harian Kompas yang menulis tentang rumahnya dan dipublikasikan pada Minggu, 28 Maret 2010, Bob bercerita, pada tahun 1980-an, ia tetap memakai celana pendek saat menerima kunjungan Presiden Soeharto ke kebunnya yang sekarang menjadi rumahnya.

”Bagi saya, pakaian adalah kepribadian. Soal tudingan bahwa celana pendek simbol tidak menghargai orang lain, itu sekali lagi hanyalah mindset orang kebanyakan. Saya pernah diusir dari Gedung DPR karena semata mengenakan celana pendek."
"Saya dituntut memakai celana panjang kalau mau masuk ke gedung rakyat itu. Oke, saya mau bertanya. Lebih baik mana, celana pendek tapi dibeli dengan uang sendiri atau celana panjang tetapi dibayar dengan uang rakyat? Ha-ha-ha,” kata Om Bob.

Dilansir dari wikipedia, Bob Sadino lahir dengan nama Bambang Mustari Sadino dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Sewaktu orang tuanya meninggal, Om Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Om Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun.

Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.

Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan.

Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Om Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri. Pekerjaan pertama yang dilakoni Om Bob setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya.

Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Om Bob beralih pekerjaan menjadi kuli bangunan dengan upah harian Rp.100.

Suatu hari, seorang teman menyarankan Om Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresi yang dialaminya.

Om Bob tertarik dan mulai mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar.

Om Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu.

Ketika itu, telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli oleh ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang, serta beberapa orang Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri.

Namun seiring berjalannya waktu, telur ayam negeri mulai dikenal sehingga bisnis Om Bob semakin berkembang.

Om Bob kemudian melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Selain memperkenalkan telur ayam negeri, ia juga merupakan orang pertama yang menggunakan perladangan sayur sistem hidroponik di Indonesia.

Catatan awal tahun 1985 menyebutkan, rata-rata per bulan perusahaan Om Bob menjual 40-50 ton daging segar, 60-70 ton daging olahan, dan sayuran segar 100 ton.

No comments