Sebelum Saling Cela Gara-gara Beda Pilihan Politik, Baca Tulisan Ini Dulu, Anda Akan Malu Sendiri!

silahkanSHARE | Kami memang berusaha untuk tidak membuat tulisan tentang politik, namun demi menyadarkan mereka yang masih saling cela di sosial media, maka kami buat tulisan ini.

Jika anda sudah membaca tulisan ini, mohon untuk tidak hanya berhenti dibaca oleh anda saja, tapi mohon bantuanya untuk share dan membagikan tulisan ini kepada teman anda, atau kepada orang-orang di group atau di komentar berita online yang mereka sedang saling cela dan saling hina, hanya gara-gara beda pilihan politik.

Hal ini sangat penting supaya mereka tahu data dan fakta, betapa mereka yang saling cela di sosial media hanya beda pilihan politik dijamin akan malu sendiri jika mau membaca tulisan ini sampai tuntas.

Tulisan ini sudah beredar di sosial media, dan kami juga ingin membagikanya melalui website kami agar semakin banyak orang tahu.

Jika sudah tahu, harapan kami, semoga saja semakin banyak orang yang tersadarkan sehingga malu sendiri, betapa tiada guna saling cela dan saling hina di sosial media, hanya karena beda pilihan politik semata.

Silahkan baca dengan seksama tulisan berikut,

------------------------------------
 Diambil dari "dunia lain", "Tidak Ada Musuh dan Teman yang Abadi"

Mari sama-sama kita renungkan... 🙏
Prabowo yang sekarang ini sering "diadu" dengan Jokowi, itu dahulu merupakan calon wakil Presiden yang berpasangan dengan Megawati (Pilpres 2009).
Fadili Zon yang sekarang berkali-kali kritik dan nyinyirin Jokowi, dulunya merupakan tim sukses, sekaligus juru kampanye Jokowi - Ahok dan selalu rajin berbaju kotak-kotak saat Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta di tahun 2012.
Anies Baswedan, yang sekarang sering dibanding-bandingkan dengan Jokowi untuk bahan saling cela di sosial media, dulunya merupakan tim sukses Jokowi-JK. Bahkan Anies Baswedan diangkat sebagai menteri pendidikan, setelah sebelumnya Anies menjadi pemenang capres versi konvensi Partai Demokrat, partai besutan SBY.
Susilo Bambang Yudhoyono atau lebih dikenal SBY, yang sempat dianggap sebagai musuh dan enggan tak mau bertemu, dulunya merupakan  menterinya Megawati, maju nyapres bareng Jusuf Kalla dengan didukung penuh Surya Paloh. Sekarang ini justru Suryo Paloh mesra banget sama Mega, dan seperti ada kesan seraya menjauhi SBY.
Pilpres berikutnya giliran Jusuf Kalla nyapres bareng Wiranto melawan SBY-Boediono yang didukung Aburizal Bakri. Tapi yang terjadi kemudian, Aburizal Bakrie ternyata di Pilpres 2014 kemarin hingga sekarang terlihat akrab dengan Prabowo yang dulu saat pilpres 2009 merupakan kompetitornya.
Bagaimana dengan Amien Rais?
Amien Rais dianggap jauh lebih unik lagi, Kenapa?
Karena Amien Rais ini dulunya orang yang menggulingkan Gus Dur sehingga Megawati naik jadi Presiden. Padahal anda pasti ingat dan tahu, bahwa sebelumnya Amien Rais terkesan dan dianggap sebagai orang yang paling tidak sudi seandainya Megawati jadi Presiden RI, itu kenapa Amien Rais merupakan orang yang menjadi inisiator agar Gus Dur jadi presiden.
Cerita tersebut belum berakhir, ternyata pada Pilpres 2004, Amien Rais melawan SBY dan Prabowo di tahun 2009. 
Saat itu Amien Rais begitu vokal anti dengan Prabowo karena dianggap pelanggar HAM dengan menculik para aktivis. Bahkan ada yang menyebut jika saat terjadi kerusuhan 1998, Amien Rais disebut-sebut sebagai target Jendral Prabowo untuk "diamankan".
Tapi coba apa yang anda lihat dan terjadi saat Pilpres 2014 yang lalu?
Dengan tiada henti-hentinya, justru Amien Rais berbalik selalu memuji hingga jadi juru kampanye Prabowo untuk supaya bisa memenangkan Prabowo jadi Presiden.
Bagaimana dengan PKS?
Banyak orang tahu dan ingat bahwa PKS ini di tahun 2012 yang lalu saat Pilkada DKI Jakarta, Para kader PKS dianggap gila-gilaan melakukan black campaign untuk menjatuhkan Prabowo pada Pilpres 2009 dan Pilkada DKI 2012. 
Tapi coba anda lihat sekarang?
PKS dan Prabowo begitu "mesra" untuk melawan Jokowi, seeprti pasangan yang tak bisa terpisahkan.
Pada masa SBY dulu, PKS dan Gerindra dianggap sebagai musuh bebuyutan, karena saat itu Gerindra begitu mesra bersama PDIP dalam status oposisi, sementara PKS masuk koalisi di Setgab SBY.
Tapi coba anda saksikan sekarang, dua kader PKS dan Gerindra yang punya nama Fadli Zon dan Fahri Hamzah, terlihat begitu mesra, bahkan ada yang mengibaratkan kedekatan mereka seperti mirip Ipin dan Upin. 
Namun disisi yang lain, uniknya dari si Fahri Hamzah ternyata harus berselisih dan sering ribut dengan elit PKS yang sudah memecat dirinya dari PKS.
Tapi anehnya, Fahri gontok-gontokan dengan PKS yang para bosnya (Sohibul Iman dan Prabowo) begitu seiya sekata. Aneh kan? :-)
Sebagai tambahan, dan ini juga tidak kalah seru, mari kita sebut nama Ahmad Dhani 
Kalau anda ingat dahulu, mungkin anda masih ingat jika Ahmad Dhani pernah bikin geger infotainment selama berbulan-bulan karena saat itu Ahmad Dhani geger dengan FPI yang penyebabnya terkait dengan masalah lambang agama, menciptakan lagu "Laskar Cinta" buat nyindir FPI. Tapi sekarang, anda bisa melihat sendiri, betapa mesranya Ahmad Dhani bersama dengan FPI. 

Yaa begitulah.

Dari fakta-fakta diatas, jadi jangan kaget kalau kalau misalnya suatu saat yang sekarang musuh-musuhan, besok berganti jadi kawan. Sebaliknya, yang mungkin saat ini dianggap lawan, suatu saat akan jadi kawan.

Anda juga tak perlu terkejut misalnya suatu saat si Jonru jadi pembela Jokowi, om Denny Siregar jadi pembela Prabowo. Nothing is impossible in this country.

Makanya istilahnya adalah "bermain politik", karena ini hanyalah sebuah permainan. Bukan ideologis.

Anda juga perlu tahu jika dalam politik itu, tidak ada kawan sejati atau musuh abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Politik kepentingan jauh mengalahkan ideologi, partai maupun golongan.

Bahkan ada pihak yang sampai punya simpulan bahwa terkadang POLITIK itu drajatnya akan dianggap LEBIH TINGGI DARIPADA AGAMA oleh orang-orang tertentu.

Hal ini bisa dilihat karena saat punya perbedaan agama, jika memiliki pandangan politik yang sama, biasanya mereka akan bisa AKUR dan saling HORMAT MENGHORMATI dan saling menjaga.

Namun terkadang, walaupun sama-sama SEAGAMA sekalipun, kalau pilihan politiknya beda, Bisa-bisa anda AKAN DIANCAM SAAT MENINGGAL TAK AKAN DISHOLATKANYA.

Jadi mulai sekarang, setelah anda membaca point-point diatas, mari kita yang rakyat biasa ini ingat, bahwa politik itu permainan yang dinamis.

Jangan korbankan teman, keluarga, saudara, tetangga, teman bisnis, dan keharmonisan anda hanya berbeda pilihan politik hari ini.

Kalaupun berbeda pandangan politik, boleh saja dan sama sekali tak dilarang, tapi yang wajar-wajar saja lah, tidak perlu pakai emosional. Mereka yang di atas hanya akan ketawa-ketiwi saja ngeliat kita berdebat kusir, menghabiskan energi dengan saling mencela pilihan orang lain.

Anda ingat bukan saat zaman penjajahan dahulu, kita bisa dijajah hingga ratusan tahun oleh Belanda itu karena kita saat itu mudah DIADU-DOMBA.

Masa sekarang saat kita sudah merdeka, yang seharusnya saling bersatupadu membangun negara, kenapa justru malah sibuk saling cela dan saling menghina di sosial media?

Padahal setahu kami, di zaman yang semakin maju dan modern ini, sudah SANGAT SULIT kita temukan DOMBA YANG MUDAH DIADU.

Masa iya sih, kita yang katanya orang modern dan hidup di zaman yang semakin canggih dan modern, tapi kok begitu mudah DIADU DOMBA?

Renungkanlah!

SilahkanSHARE!

No comments