Waspada! Tulang Jadi Lemah dan Mudah Patah, Ketika Malas Bergerak dan Banyak Duduk

Waspada! Tulang Jadi Lemah dan Mudah Patah, Ketika Malas Bergerak dan Banyak Duduk.


SilahkanSHARE.com | Pola hidup orang saat ini kebanyakan lebih banyak duduk dan jarang berolahraga. Dulu kebiasaan ini lebih identik dengan obesitas dan penyakit jantung, namun studi terbaru mengungkapkan risiko lainnya: tulang lemah dan mudah patah.

Ya, studi yang dilakukan oleh peneliti dari Camilo Jose Cela University, Madrid, menyebutkan bahwa mereka yang rajin olahraga seperti lari memiliki densitas tuang yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang jarang berolahraga.

Ini berarti, rajin berolahraga dapat memengaruhi pula kekuatan tulang seseorang kelak saat menua. Jika Anda ingin menua dengan tulang yang kuat dan terhindari dari osteoporosis, maka sejak muda biasakan diri dengan jadwal olahraga yang rutin.

Faktanya, kualitas dan kekuatan tulang sangat dipengaruhi oleh densitas mineral dalam tulang, termasuk dipengaruhi oleh asupan kalsium serta faktor-faktor seperti jenis kelamin, usia, ras dan diet. Mereka yang memiliki kepadatan tulang rendah, maka akan menjadi lebih rentan terhadap osteoporosis. Dalam kondisi ini, tulang akan menjadi rapuh dan mudah patah.

Dalam studi ini, peneliti membandingkan kepadatan tulang mereka yang rajin berolahraga lari, dengan mereka yang hampir tak pernah olahraga. Tes kekuatan pun dilakukan pada kedua kaki kiri dan kanan.

"Hasilnya, mereka yang rajin berlari memiliki kepadatan tulang jauh lebih baik, dibandingkan mereka yang malas olahraga. Selain berlari, olahraga yang dianjurkan untuk menjaga kesehatan tulang adalah melompat," tutur Prof Beatriz Lara, seperti dikutip dari Daily Mail dan detikHealth.com, [21/04/16].

Ia melanjutkan, olahraga seperti berenang atau skating, yang tidak menempatkan banyak berat badan pada tubuh, tidak terlalu memiliki hubungan signifikan dengan kepadatan tulang dibandingkan berlari atau melompat. Namun masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui lebih pasti penyebabnya.

Studi ini telah dipublikasikan dalam European Journal of Applied Physiology.

No comments