Balita Tidak Boleh Sama Sekali Main Gadget? Ini Kata Psikolog

Balita Tidak Boleh Sama Sekali Main Gadget? Ini Kata Psikolog.


SilahkanSHARE.com | Di dunia modern ini gadget merupakan bagian terpenting dalam kehidupan kita. Tapi gadget juga bisa membuat dampak positif dan negatif, terutama kapada anak balita.

Rekomendasi American Association of Pediatric, anak usia prasekolah yakni 2-5 tahun maksimal hanya boleh melakukan screen time maksimal satu jam. Meskipun tak sedikit orang tua yang berupaya agar si anak tak memiliki screen time sama sekali.

Menurut psikolog pendidikan dan anak, Elizabeth Santosa MPsi, anak balita memang umumnya memiliki waktu luang di rumah. Akibatnya, mereka akan lebih banyak bermain, salah satunya bermain gadget.

"Untuk anak TK sebetulnya boleh saja main gadget asal nggak sampai adiksi ya. Kalau dia tumbuh kembangnya baik, bugar, kemampuan sosial dan akademiknya, nggak apa-apa," tutur wanita yang akrab disapa Lizzie ini dalam Peluncuran Buku 'Screen Time' di Reading is Fun@Rumah Baca, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Beberapa tanda anak sudah mengalami adiksi yakni ketika ia diminta berhenti bermain gadget, anak akan marah-marah dan tantrum. Ketika asyik dengan gadgetnya dan dipanggil dua sampai tiga kali, anak tidak akan menyahut.

"Lihat aspek sosialnya juga baik nggak. Dia ketemu teman lain di taman, di tempat umum dia biasa aja, nggak nangis, bisa berinteraksi sama orang lain, itu nggak masalah. Tapi kalau dia nangis, nggak nyaman, takut sama orang lain, itu addict," tutur Lizzie.

Sedangkan, pada anak usia sekolah, salah satu tanda adiksi bisa terlihat dari menurunnya kemampuan akademis anak. Meskipun, ditekankan wanita berambut panjang ini tidak melulu penurunan nilai akademik disebabkan karena adiksi gadget.

Pada anak usia sekolah, dikatakan Lizzie frekuensi anak bermain gadget bisa berkurang seiring berjalannya waktu. Sebab, tugas sekolah mereka makin banyak sehingga waktu bermain gadget pun berkurang. Lizzie menambahkan, screen time tidak hanya mengacu pada konsumsi gadget tapi juga televisi.

Sumber: Detikhealth.com

No comments