3 Bos Teknologi yang Pernah Hidup Sengsara Sebagai Imigran

3 Bos Teknologi yang Pernah Hidup Sengsara Sebagai Imigran.


SilahkanSHARE.com | Menurut data yang dimiliki Business Insider, lebih dari sepertiga perusahaan teknologi termuka asal Amerika Serikat (AS) didirikan oleh orang-orang yang dilahirkan di luar AS, alias imigran.

Benar sekali, memang banyak warga dunia yang berbondong-bondong datang ke AS untuk mewujudkan `American Dream` mereka masing-masing. Banyak yang merengkuh kesuksesan, namun tak sedikit pula yang gagal.

Tak adil rasanya jika kita hanya terus-menerus membahas kisah sukses mereka. Ada baiknya jika kita juga melihat bagaimana perjuangan mereka, jatuh bangun menuju kesuksesan.

Dikutip dari liputan6.com, berikut adalah kisah 3 bos perusahaan teknologi kenamaan yang sempat merasakan getirnya kehidupan sebagai seorang imigran.

#1. Sergey Brin


Salah satu pendiri Google, Sergey Brin, pertama kali menginjakkan kakinya di AS saat masih berusia 6 tahun. Bersama keluarganya, ia pindah dari Uni Sovyet yang runtuh dan menetap di Maryland.

"Ketika sampai di AS, Brin duduk di kursi belakang mobil dan begitu terpukau dengan banyaknya mobil-mobil besar yang berseliweran di jalan raya," ujar Eugenia Brin, ibunda Sergey kepada Moment Magazine.

Sang ibu bercerita, Brin kecil sulit membaur dengan lingkungan. Ia kesulitan berbicara bahasa Inggris. Ketika bisa berbahasa Inggrispun, aksen rusianya yang kental membuat Brin kerap menjadi bahan olok-olokan teman-temannya.

Namun Brin anak yang giat belajar. Ia bekerja keras mempelajari bahasa Inggris. Hasilnya adalah gelar PhD dari Standford University, tempat ia bertemu sang sahabat, Larry Page, dan bersama-sama membangun Google.

#2. Jan Koum


Jan Koum, pendiri WhatsApp ini lahir di Ukraina. Saat berumur 16 tahun, bersama ibunya ia pindah ke AS, mereka menetap di Mountain View, California. Di masa-masa awal, Koum hidup kekurangan, mereka mengandalkan kupon makanan gratis untuk bertahan hidup.

Sang bekerja paruh waktu sebagai babysitter, sementara Koum bekerja sebagai pembersih di toko bahan makanan. Ibunda Koum pun meninggal dunia di tahun 2000.

Namun ketertarikan Koum dengan dunia komputer memberikan titik terang. Ia tidak pernah secara akademis mempelajarinya, Koum mempelajari komputer melalui buku-buku yang didapatnya dari toko buku bekas. Beruntung bagi Koum, ia mendapat pekerjaan di Yahoo sebagai karyawan ke-44.

Karirnya melesat cepat dan di tahun 2009, ia memutuskan untuk mendirikan WhatsApp. Sukses besar, aplikasi perpesanan instan ciptaannya itu akhirnya dibeli Facebook seharga US$ 19 juta. Koum berhak atas bagiannya sebesar US$ 7,2 juta.

#3. Max Levchin


Serupa dengan Koum, Max Levchin adalah kelahiran Ukraina dan pindah ke AS pada usia 16 tahun. Menurut keterangan salah satu pendiri PayPal ini, keluarganya sangat miskin ketika pertama kali tiba di AS pada tahun 1991.

Sialnya lagi, meski cukup fasih berbahasa Inggris, Levchin kesulitan memahami budaya AS. Ia jadi sulit bergaul dan dijauhi teman-teman. Namun Levchin tak kehabisan akal, ia pun mempelajari budaya AS melalui acara-acara TV.

"Begini cara saya menghilangkan akses yang sangat kental (nonton TV). Saya juga mempelajarai budaya pop AS dari TV yang saya temukan di tempat sampah," ungkap Levchin saat diwawancarai oleh Silicon Valley Business Journal.

Di tahun 1998 Levchin pun mendirikan PayPal di Chicago bersama Peter Thiel dan Elon Musk. Di tahun 2002, PayPal pun diakuisisi eBay dengan banderol mencapai US 1,5 miliar.

No comments