Ungkapan Penuh Haru dari Seorang Anak untuk Ayahku

Ungkapan Penuh Haru dari Seorang Anak untuk Ayahku.


SilahkanSHARE.com | Terkadang dalam sebuah keluarga, peran ibu memanglah teramat sangat penting dan mulya. Namun tentunya diluar seorang Istri, ada peran lain yaitu seorang Ayah.

Beberapa anak seringkali kurang begitu dekat apalagi menghargai jerih payah Ayahnya. Hal tersebut mungkin dikarenakan secara psikologi dan kedekatan, seorang anak akan lebih dekat dengan seorang Ibu.

Apalagi jika Ayahnya sibuk bekerja, sedangkan Ibunya yang mengurusi semua pekerjaan di rumah, tentunya sebuah hal yang wajar ketika kerja keras Ibulah yang paling sering dilihat oleh seorang anak.

Namun yakinlah bahwa dalam sebuah rumah tangga, peran ibu dan Ayah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan.

Baru-baru ini di sosial media muncul sebuah ungkapan yang membicarakan tentang sebuah ungkapan seorang anak yang menggambarkan sosok Ayah.

Dimana dalam tulisan berjudul "Ayah" tersebut menggambarkan sebuah suara hati seorang anak yang menyampaikan penilaianya terhadap Ayah dari ia kecil hingga sudah menjadi orang tua.

Untuk anda yang memiliki sosok Ayah yang jadi idola anda, siapkanlah tisu untuk menghapus air mata haru anda ketika mengingat Ayah anda tercinta karena tulisan ini memang sungguh mengharukan.

:: Ayahku ::

Saat umurku 4 tahun: "Ayahku adalah orang yang paling hebat".

Saat umurku 6 tahun: "Ayahku tahu semua orang".

Saat umurku 10 tahun: "Ayahku istimewa, tapi cepet marah".

Saat umurku 12 tahun: "Ayahku dulu penyayang, ketika aku masih kecil".

Saat umurku 14 tahun: "Ayahku mulai lebih sensitif".

Saat umurku 16 tahun: "Ayahku tidak mungkin mengikuti zaman ini".

Saat umurku 18 tahun: "Ayahku seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih susah".

Saat umurku 20 tahun: "Sulit sekali aku memaafkan ayahku, aku heran bagaimana ibuku bisa tahan hidup dengannya".

Saat umurku 25 tahun: "Ayahku menentang semua yang ingin ku lakukan".

Saat umurku 30 tahun: "Susah sekali aku setuju dengan ayah, mungkin saja kakekku dulu capek ketika ayahku muda".

Saat umurku 40 tahun: "Ayahku telah mendidikku dalam kehidupan ini dengan banyak aturan, dan aku harus melakukan hal yang sama".

Saat umurku 45 tahun: "Aku bingung, bagaimana ayahku dulu mampu mendidik kami semua?".

Saat umurku 50 tahun: "Memang susah mengatur anak-anak, bagaimana capeknya ayahku dulu dalam mendidik kita dan menjaga kita?".

Saat umurku 55 tahun: "Ayahku dulu punya pandangan yang jauh, dan telah merencanakan banyak hal untuk kita, ayah memang orang yang istimewa dan penyayang".

Saat umurku 60 tahun: "Ayahku adalah orang yang paling hebat".

Lingkaran perjalanan ini menghabiskan waktu 56 tahun untuk kembali ke titik semula di umur 4 th, saat ku katakan "Ayahku adalah orang yang paling hebat".

Maka hendaklah kita berbakti kepada orang tua kita sebelum kesempatan itu hilang, dan hendaklah kita berdoa kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita lebih baik dalam bermuamalah dengan kita melebihi mu'amalah kita dengan orang tua kita. |sumber bacaan: FamilyGuideIndonesia

No comments