Pantai Tojinbo, Lokasi Favorit Bunuh Diri di Jepang

Pantai Tojinbo, Lokasi Favorit Bunuh Diri di Jepang.


SilahkanSHARE.com | Jepang memang memiliki ‘tradisi’ bunuh diri atau harakiri. Pantai Tojinbo adalah satu tempat favorit untuk melakukan tradisi yang masih dianggap ambigu itu.



 Perjalanan ke Jepang tak hanya berhenti di Tokyo, Kyoto, dan Osaka saja. Penulis pun berkesempatan mengunjungi provinsi atau prefectur Fukui, salah satu prefectur penghasil beras terbesar di Kepulauan Honshu, pulau terbesar di Jepang selain Shikoku, Kyusu, dan Hokkaido.

Dikutip dari indopos.co.id [11/15].Perjalanan ke kota ini adalah perjalanan tak disengaja. Berawal dari ajakan rekan couchsurfing (komunitas backpacker), Honoka Nojiri ke kampung halamannya di Fukui. Alhasil waktu dua hari di Kyoto pun menjadi terbagi mengunjungi kota ini. Menuju kota ini, butuh waktu tiga jam menggunakan bus Keifuku dari stasiun bus Fushimi-ku, Kyoto.

Mengunjungi Fukui, Kouhei Funahashi, seorang mahasiswa jurusan biologi dari Universitas Fukui pun turut bersama dan menjemput dari stasiun Fukui. Tujuan berikutnya adalah pantai Tojinbo. Butuh waktu satu jam menggunakan mobil pribadi menuju Tojinbo. “Tojinbo merupakan tempat wisata pantai yang terkenal di Fukui setelah museum Dinosaurus,” ujar Kouhei di tengah perjalanan kami.

Pria ramah berusia 25 tahun ini menjelaskan, Tojinbo sering dijadikan sebagai lokasi syuting film action di Jepang, atau lokasi pengambilan gambar yang memacu adrenalin untuk acara televisi. “Lokasi itu juga sebagai lokasi spiritual. Ah lihat saja nanti, kamu akan takjub,” ujarnya.

Pantai Tojinbo Fukui F Chahaya (6)

Tojinbo, atau oleh masyarakat Jepang menyebutnya Tojimbo merupakan pantai bertebing terjal yang terletak di Kota Sakai, perbatasan antara provinsi atau Prefectur Fukui dan Prefectur Ishikawa. Pantai ini mengarah ke Laut Jepang dengan terjangan ombak yang kuat sepanjang tahun. Menuju kawasan ini butuh 10 jam perjalanan dari Tokyo menggunakan bus.

Menuju Tojinbo, dibutuhkan jalan kaki sekitar 15 menit dari lokasi parkir mobil. Jalanan yang menanjak tersebut tidak akan terasa, karena di kiri kanan jalan banyak kedai warga dengan rumah tradisional Jepang, yang menjual aneka jenis makanan laut. Fukui, selain dikenal sebagai lokasi persawahan, juga terkenal dengan hasil lautnya yang melimpah.

Tibalah di tubir paling ujung. Pemandangan menakjubkan pun langsung terlihat. Angin laut musim gugur yang dingin langsung menerpa. Suhu dingin 5 derajat celcius langsung menyeruak. Baju hangat atau mantel dan syal hangat tak mampu melawan dingin yang menusuk tulang. Namun hal tersebut tak menghalangi tekat kami melihat lebih dekat tebing terjal di sana. Sejauh mata memandang dari kiri ke kanan, tebing tersebut sangat kokoh dengan permukaan yang tidak rata.

Di titik utama pantai Tojinbo tersebut, ada kaligrafi Jepang yang menjelaskan bahwa tebing ini mempunyai panjang 1 kilometer dan tinggi sekitar 25 meter. Menuju tiap pesisirnya, ada jalan kecil, susuran dari bebatuan. Dari jalanan kecil tersebut, tebing tersusun dengan bentuk yang aneh. Deburan ombak yang keras menghantam karang, ditambah suasana eksotis membuat kawasan ini sangat indah, namun menegangkan apabila berdiri dan berjalan menyusuri jalan kecil di tebingnya.

494--05f7b3af53068ffe66859f8b29299ad5

Tempat ini memang berbeda dari tempat wisata yang sudah dikunjungi di Jepang. Pantainya terdiri dari dinding andesit. Berdasarkan Wikipedia, hanya ada tiga fenomena dinding andesit di dunia yakni Jepang, Korea, dan Norwegia. Andesit pantai Tojinbo terbentuk sekitar 1,2 miliar tahun yang lalu. Pantas saja, pemerintahan Jepang menunjuk lokasi ini sebagai kekayaan alam nasional dan menjadikannya tempat wisata sejak 2004 lalu.

Tak hanya berdinding andesit, kawasan ini juga hampir 80 persen jurang atau cliff. Dinding andesit dengan pantai karang yang curam dan terjal berpadu dengan air laut jernih dan ombaknya yang keras membuat kawasan tersebut sangat indah. Nyanyian alam sempurna perpaduan dari desiran angin dan suara ombak membuat aura aneh bagi pengunjungnya. Meski begitu, banyak pengunjung yang sangat menikmati pemandangan alam tersebut.

Turun ke bagian tebing paling depan, melihat sekelilingnya, pantai Tojinbo ini memang sangat indah. Laut seolah dipagari tebing batu dan karang yang seakan tak bertepi. Di tengah tebing, ada tangga batu menuju akses ke laut. Sayang, tangga tersebut tertutup tali dan tulisan (lagi-lagi) berbahasa Jepang. “Arti tulisan ini, pikirkan kembali ibumu apabila melewati tangga ini,” ujar Hiroyuki, salah satu pengunjung asal Fukuoka.

Di balik keindahan pantai ini, ditambah teka-teki keberadaannya, hampir membuat takut, namun menyusuri pantai terjal tersebut tetap menjadi petualangan yang menyenangkan. Namun berjalan di pantai ini harus ekstra hati-hati, tergelincir sedikit saja, nyawa menjadi taruhannya.

“Pelan-pelan Chahaya kakak, jangan terlalu pinggir jalannya,” teriak Honoka dari belakang saat kami hendak menuju tengah-tengah pantai berbatu dengan permukaan yang tidak rata tersebut. Di tempat tersebut, bersama rekan, sempat mengabadikan foto bersama dan merekam video keindahan pantai karang ini.

Di kawasan pantai tersebut, di atas toilet umum, ada rumah dengan desain rumah tradisional Jepang. Oleh Kouhei, rumah tersebut dijadikan sebagai pusat konseling dan tempat peristirahatan. “Jadi, ada banyak orang ke sini, memilih mengakhiri hidup disaat mereka tidak mampu menyeimbangkan kehidupan spiritual mereka. Di tempat kamu berdiri tadi, dari situlah mereka melompat, menyatu ke alam,” jelas Kouhei.

Tak hanya Kouhei, Santi Sitorus, rekan di Kawasaki pun menceritakan, di pantai ini sering terjadi peristiwa bunuh diri. Tempat itu memang sangat berbahaya. Makanya, oleh sebagian warga Jepang, bunuh diri ke laut itu adalah hal wajar, karena ombak laut dianggap sebagai nyanyian kesepian.

“Entahlah, tapi aku tak percaya itu,” ujar rekan yang baru lima bulan bermukim di Kawasaki tersebut.

Dari tebing yang terletak 100 meter di atas permukaan laut ini, terlihat ada sebuah pulau kecil di kejauhan. Namanya Pulau Ojima, atau oleh warga Fukui sering disebut Pulau O. Adakah penduduk di sana? Apa itu lokasi wisata yang menarik juga? Kouhei menjawab dengan kaget. “No! Itu pulau tak berpenghuni. Itu pulau hanya bagi orang yang ingin menyendiri dan tidak ingin kembali lagi,” ujarnya dengan halus.

Maksudnya? Ia pun hanya tersenyum meninggalkan teka-teki.

Dalam perjalanan pulang dari pantai tersebut, tiba-tiba Kouhei menunjukkan sebuah patung berbentuk aneh. Bentuknya seperti panda dalam film Kung Fu Panda, tapi tangan dan telinganya seperti manusia. “Tahu arti dari Tojinbo? Dari sinilah legendanya,” kata Kouhei.

Dia menjelaskan, Tojinbo itu pendeta yang dibunuh dengan cara didorong ke laut. Masyarakat percaya, terjangan ombak yang terjadi sepanjang tahun di sini merupakan gerakan arwah Tojinbo yang murka. “Setiap tahun selalu ada upacara pemujaan di sini,” jelasnya.

Apakah karena cerita tersebut, masyarakat Jepang menjadikan tempat yang bisa diakses dengan kereta peluru Shinkansen Kanagawa jalur Hokuriku ini sebagai salah satu lokasi bunuh diri? Setiap tahun, ada saja ditemukan mayat di laut Tojinbo, atau orang hilang yang dicari di sini, dan tiba-tiba ketemu mengambang.

Jepang tercatat sebagai salah satu negara yang memiliki angka bunuh diri tertinggi di dunia setelah Korea Selatan dan Guyana. Faktor bunuh diri ini karena dipicu budaya harakiri, atau budaya malu karena kesalahan sosial. Tahun 2014 tercatat sebanyak 18,4 persen atau sekitar 50 ribu warga Jepang yang bunuh diri. Jumlah ini hampir menyamai angka bunuh diri di Indonesia yang rata-rata karena penyebab faktor sosial dan ekonomi.

Panorama Tojinbo yang menakjubkan, malah sering digunakan sebagai tempat wisata bunuh diri warga dari berbagai pelosok Jepang. Oh ya, khusus bagi warga yang ingin mengunjungi tempat wisata di kota Sakai ini, bisa menggunakan kereta Japan Railpass (JR) menuju stasiun Awaraonsen di kota Awarayunomaci, lalu lanjut naik bus Keifuku dengan jalur Tojinbo.


No comments